Pembacaan Surah Yasin bersama siswa-siswi MI Raudlatul Qur’an dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan.10 malam terakhir bulan Ramadhan adalah momen sangat istimewa bagi setiap umat Muslim di seluruh dunia. 10 malam terakhir, selain disebut-sebut menjadi waktu turunnya al-Qur’an dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar, juga memiliki nilai lebih dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Karena itu, bagi segenap umat Islam sangat tepat memaksimalkan doa dan istighfar pada malam tersebut, berdoa semoga ibadah puasa dan amal-amal kebaikan lainnya diterima di sisi Allah SWT dan semua hajat dikabulkan dalam bentuk terbaiknya, serta memperbanyak beristighfar kepada-Nya atas segala kesalahan dan kemaksiatan yang telah kita perbuat, baik yang sengaja maupun yang tidak. Berdoa pada 10 malam terakhir dari bulan Ramadhan tidak hanya bisa kita lakukan setelah melakukan shalat fardhu, shalat tarawih, saat i’tikaf, tapi bisa juga kita wujudkan dalam bentuk kehatian-hatian dalam berucap atau saat berkomunikasi dengan teman tongkrongan, kerabat, tetangga, atau orang lain. Apalagi keadaan kita sedang melaksanakan ibadah puasa dan berada di bulan suci Ramadhan, kehatian-hatian berucap atau berkomunikasi itu harus lebih kita tingkatkan. Sebab, setiap kalimat yang keluar dari lisan kita merupakan bagian dari doa. Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:
إِنَّ مَبْدَأَ إِرَادَةِ الدُّعَاءِ الْقَلْبُ، ثُمَّ تَفِيضُ تِلْكَ الْإِرَادَةُ عَلَى اللِّسَانِ فَيَنْطِقُ بِهِ Artinya: “Sungguh sumber keinginan berdoa adalah hati, kemudian keinginan itu meluap ke lisan dan lisan pun mengucapkannya.” (Al-Fathul Mubin bi Syarhil Arbain, [Arab Saudi: Darul Minhaj, 2008], halaman 290).
Penjelasan Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengisyaratkan antara hati sebagai sumber doa dan pengharapan, serta lisan sebagai alat penegasnya yang merupakan satu kesatuan. Memaksimalkan doa setelah shalat dan waktu yang dianjurkan lainnya, atau di masjid saat i’tikaf dan tempat istijabah penting untuk ditingkatkan pada 10 terakhir dari bulan Ramadhan. Akan tetapi, berdoa dengan wujud menjaga perkataan kotor, menjaga pembicaraan yang dapat menyakiti hati orang, dan ucapan negatif lainnya tidak kalah penting untuk ditingkatkan.
Perintah Berdoa dan Kenapa Manusia Perlu Berdoa? Perintah untuk berdoa termaktub dalam beberapa ayat al-Qur’an.
Di antaranya dalam Surat Ghafir ayat 60. Allah swt berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ Artinya: “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”
Lalu kenapa perlu berdoa? Jawab sederhana. Bayangkan jika kita diperintah untuk meminta sesuatu oleh atasan kita di tempat kerja, misalnya, tapi kita tidak menanggapi, dan malah mengabaikannya. Tindakan seperti ini jelas menandakan ketidaksopanan dan kesombongan diri. Padahal hanya diperintah meminta sesuatu darinya, bukan diperintah untuk melakukan sesuatu. Begitu juga saat Allah swt memerintah kepada hamba-Nya untuk berdoa, lalu tidak berdoa. Maka tindakan tersebut menandakan kepongahan yang nyata. Syekh Nawawi Banten saat menafsirkan ayat ini, mendefinisikan doa dengan sebuah pengakuan penghambaan dan ketundukan dari setiap manusia. Maka, jika ada manusia yang enggan untuk berdoa ia dikategorikan sombong.
فَالدُّعَاءُ اِعْتِرَافٌ بِالْعُبُودِيَّةِ وَالذِّلَّةِ، فَكَأَنَّهُ قِيلَ: إِنَّ تَارِكَ الدُّعَاءِ إِنَّمَا تَرَكَهُ لِأَجْلِ أَنْ يَسْتَكْبِرَ عَنْ إِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ Artinya: “Doa merupakan pengakuan penghambaan dan ketundukan. Maka, seolah-olah dikatakan, orang yang enggan berdoa sejatinya ia meninggalkan doa karena kesombongan dirinya karena enggan menampakkan kehambaannya.” (Marahul Labid, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah], jilid II, halaman 362).




