Suasana pembelajaran Al-Qur’an yang khusyuk dan penuh semangat di bulan suci Ramadhan.

Dalam siklus waktu yang kita lalui, Ramadhan hadir layaknya musim semi bagi jiwa-jiwa yang sempat gersang. Ia bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah ladang spiritual dengan tingkat kesuburan yang tak tertandingi oleh bulan-bulan lainnya.   Di sinilah kita perlu menyadari bahwa Ramadhan adalah hamparan ladang luas yang disediakan Allah swt untuk kita menjemput keberkahan yang tak terhingga. Di dalam ladang ini, tersimpan satu anugerah paling agung, yaitu Lailatul Qadar yang kemuliaannya melampaui seribu bulan.   Dalam hadits Rasulullah saw menjelaskan, barang siapa yang berhasil mendapatkan Lailatul Qadar maka ia telah mendapatkan seluruh kebaikan.
Beliau bersabda:   إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ، وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مَنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَلَا يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلَّا كُلُّ مَحْرُومٍ
Artinya, “Sesungguhnya bulan ini telah datang kepada kamu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa yang tidak mendapatkannya, berarti ia kehilangan seluruh kebaikan. Tidak ada yang terhalang dari kebaikan malam itu kecuali orang yang benar benar terhalang.” (HR Ibnu Majah).
Selain mendapatkan kebaikan yang tak terhingga, dalam hadits lain Rasulullah saw juga menyebutkan, barang siapa yang beribadah di malam Lailatul Qadar maka dosanya yang telah lewat akan diampuni oleh Allah swt.
Beliau bersabda:   مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya, “Barangsiapa shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR Al-Bukhari).

Sebagai muslim yang mengharapkan ridha-Nya, kita tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini berlalu begitu saja tanpa makna. Kita memahami bahwa Lailatul Qadar bukanlah sesuatu yang datang secara instan, melainkan sebuah buah yang hanya bisa dipetik oleh mereka yang bersungguh-sungguh menggarap ladangnya. Karena itu, semangat memperbanyak amal ibadah semestinya sudah dipupuk sejak awal Ramadhan.

Salah satu bentuk keistimewaan Lailatul Qadar terletak pada dirahasiakannya waktu kehadirannya oleh Allah swt. Karena waktunya yang tersembunyi, kita tidak memiliki pilihan selain memperbanyak ibadah secara merata sepanjang Ramadhan. Ketergantungan pada waktu tertentu berisiko melalaikan peluang besar. Anugerah yang nilainya melebihi seribu bulan tidak sepatutnya terlewat hanya karena kesungguhan baru dimulai ketika waktu telah mendekati akhir. Dengan memacu ibadah dan memperhebat ketaatan sejak awal, kita sedang memastikan bahwa kapan pun malam agung itu menyapa, jiwa kita sudah dalam kondisi siap dan pantas untuk memetik manisnya keberkahan Lailatul Qadar yang paripurna.   Hal ini sebagaimana penjelasan Sayyid Abdul Aziz ad-Darani. Ia menyatakan bahwa Allah swt menyembunyikan Lailatul Qadar di bulan Ramadhan agar orang beriman bersungguh-sungguh beribadah sepanjang bulan.
Ia menyebutkan:   إنّ الله تعالي أخفي ليلة القدر في رمضان ليجتهد المؤمنين في سائر الشهر كما أخفي الولي بين المؤمنين ليحترم الجميع

Artinya, “Sesungguhnya Allah menyembunyikan Lailatul Qadar di bulan Ramadan agar orang beriman bersungguh sungguh beribadah sepanjang bulan seperti halnya Allah juga menyembunyikan wali di tengah orang beriman agar setiap orang dihormati.” (Thaharaul Qulub wal Khudhu’ li ‘Allamil Ghuyub, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003], halaman 167).   Penegasan serupa juga disampaikan oleh Syekh Abu Ishaq as-Syirazi. Ia menganjurkan agar Lailatul Qadar dicari sepanjang bulan Ramadhan, dengan perhatian yang lebih besar pada sepuluh malam terakhir, khususnya malam-malam ganjil.
Ia mengatakan:
ويطلب ليلة القدر في جميع شهر رمضان، وفي العشر الأخير أكثر، وفي ليالي الوتر أكثر، وأرجاها ليلة الحادي والعشرين، والثالث والعشرين، ويستحب أن يكون دعاؤه فيها: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Artinya, “Dan dianjurkan mencari Lailatul Qadar sepanjang bulan Ramadan, terutama malam 10 akhir dan malam ganjil. Lailatul Qadar paling sering diharapkan terjadi pada malam 21 dan 23.” Dianjurkan memperbanyak doa di dalamnya, “Allahumma innak ‘afuun tuhibbul afwa Fa’fu ‘anni”.
(At-Tanbih, [Beirut, ‘Alamul Kutub: 1983], jilid I, halaman 67).
Dengan demikian, Ramadhan adalah masa menyiapkan diri, bukan sekadar menunggu akhir. Siapa yang memacu ibadah sejak awal, ia sedang memastikan kesiapan hati ketika malam agung itu datang. Jiwa yang terlatih taat akan lebih pantas menerima limpahan rahmat Lailatul Qadar.   Walhasil, marilah kita menjadikan Ramadhan sebagai ladang amal yang digarap dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah Swt mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar, mengampuni dosa-dosa kita, dan menerima seluruh amal ibadah kita. Waallahu a’lam.